Puring Naik Daun, Perlu Hak Paten

Oleh : Fehmiu Rovitavare

Kabarindonesia – Jogja, Perkembangan dan penjualan tanaman hias yang semakin marak di tahun 2007 menjadi fenomena bagi masyarakat Indonesia. Tanaman daun jenis Anthurium masih menjadi favorit dibanding lainnya. Namun secara perlahan akan tersingkir oleh Puring yang mulai naik daun.

Ari W Purwantoro, peneliti dan dosen pertanian Universitas Pembangunan Negeri “Veteran” Jogjakarta berkata: “Fenomena tanaman Puring akan naik tahun depan. Peminat Puring mulai banyak. Terlebih dengan seringnya diadakan kontes-kontes Puring di beberapa daerah. Saya rasa Puring akan menjadi salah satu tanaman hias yang bakal punya gengsi nantinya.” Ari yang juga penulis buku Puring dan Anthurium Bunga tampil sebagai pembicara dalam acara Talk Show Puring dan Anthurium Bunga kemarin hari Sabtu (15/12) di Mall Malioboro Jogjakarta.

Tanaman hias Puring, yang dulunya merupakan tanaman penghias kuburan dan emper jalan pun mulai unjuk gigi. Sebagai tanaman yang tahan banting dengan segala cuaca dan perawatan yang tidak repot, tanaman daun ini juga memiliki citra bangsa sebagai tanaman asli Indonesia.

“Puring itu tanaman asli Indonesia. Dulu memang kurang memiliki nama karena masih sebatas tanaman biasa. Tapi sekarang banyak sekali muncul varian-varian baru yang ditemukan oleh para pecinta Puring,” lanjut pecinta tanaman ini. Banyak pecinta Puring yang berhasil menemukan varian baru dengan teknik penyilangan yang menghasilkan warna daun yang lebih menarik dan cantik, tambah Ari yang juga kerap menjadi juri dalam kontes Puring baik tingkat daerah maupun secara Nasional.

Selain sebagai tanaman hias, Puring juga disinyalir memiliki daya serap untuk menahan atau menetralisir polutan. “Memang belum ada penelitian yang lebih mendalam tentang itu. Tapi memang ada beberapa jenis yang mampu menyerap polutan. Ini bagus untuk ditanam sebagai penghias taman kota,” katanya.

Hak Paten

Menyinggung soal hak paten yang kerap dianggap kurang perlu oleh beberapa orang, meski Puring adalah tanaman asli Indonesia, namun menurut Ari Poerwantoro perlu diberikan hak paten atas penemuan varian-varian baru. Namun masyarakat kita cenderung untuk membiarkan saja hal tersebut.

“Mungkin untuk mengurus pembuatan hak paten atas temuan varian baru itu sedikit merepotkan. Tapi itu perlu sekali untuk menjaga kemungkinan pihak lain mengklaim temuan itu. Nah, peran Departemen Pertanian amat diperlukan di sini,” jelasnya. “Peran Departemen Pertanian untuk mensosialisasikan pentingnya hak paten atas varian baru juga penting bagi para hobiis (pecinta tanaman dan penemu varian).”

Kata Ari yang juga penulis sepuluh buku tanaman hias lebih lanjut: “Mungkin dari tingkat lokal terlebih dahulu. Soalnya kalau tingkat internasional kan agak rumit ya. Kita harus mendaftarkan diri ke sana (luar negeri) dan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Karena itu peran Departemen Pertanian amat penting, selain tentu saja sang penemu atau pembuat varian baru harus aktif mendaftarkan diri tentang temuannya itu.” (rov).

Sumber : http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=26&dn=20071216094946

16-Des-2007, 10:18:44 WIB – [www.kabarindonesia.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: