Archive for the ‘Artikel Sanse’ Category

Budayakan Tanaman Antipolutan

Desember 14, 2007

 

Sumber : Surya Online
Menanam bunga rupanya sudah mulai menjadi budaya masyarakat. Hampir setiap rumah berhias tanaman. Tak perlu halaman karena ada pot dalam berbagai ukuran untuk menanamnya. Jenis tanaman pun beragam. Dari yang local hingga impor. Pembeli tinggal memilih yang harganya sesuai kantong. Mereka tak segan mendatangi pasar bunga atau pameran flora. Tak heran jika pameran tanaman makin kerap digelar.
Seperti pada pameran dan bursa tanaman yang diadakan di kompleks pertokoan Teratai Putih, Wedoro, Waru, Sidoarjo. Berbeda dengan pameran flora yang biasa digelar di Surabaya, pameran yang dibuka pada Jumat (2/2) lalu ini, tak melulu memajang tanaman berharga mahal. Memang ada tanaman jenis anthurium atau philodendron yang harganya mencapai jutaan rupiah. Namun sebagian besar yang dipamerkan adalah ‘tananam rakyat’ yang dengan uang Rp 5.000 pun bisa dibawa pulang.

Pameran ini memang untuk semua kalangan terang Ivon, penyelenggara pameran, sambil menunjukkan deretan tanaman jenis aglaonema lokal yang harganya terjangkau. Buat kami, yang pecinta tanaman, rasanya senang saja melihat orang-orang makin suka menanam, tambah pecinta tanaman langka ini.

Ivon kemudian menunjukkan gerai Petani Kaktus yang tentunya menawarkan berbagai jenis kaktus. Menurut Yuwono, pemiliknya, 300 jenis kaktus dijualnya dengan harga murah karena merupakan hasil budidaya sendiri. Rata-rata harganya Rp 5.000, tutur Yuwono yang asal Madiun itu.

Tanaman yang paling mendapat banyak perhatian adalah sansiviera. Menurut Ivon, tanaman ini sedang digalakkan karena bisa berfungsi sebagai antipolutan. Tanaman ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat kita. Apalagi harganya tidak terlalu mahal, tambahnya.

Pameran ini akan berlangsung hingga 25 Februari mendatang. Selain itu akan diadakan pula kursus tanaman hias,pengolahan sampah, dan pelatihan bio-fuel jarak pagar. Acara ini akan dilaksanakan pada Sabtu (17/2). Peserta akan mendapat pelatihan menanam sansiviera, adenium, dan mungkin kaktus, pungkas Ivon. kis

http://www.surya.co.id/web

Iklan

Semarak Tanaman Hias

Desember 13, 2007

Tak hanya menjadi penghias rumah, beberapa tanaman juga bisa membuat dompet Anda lebih tebal.

Tak ubahnya pakaian, tanaman hias juga mengenal tren. Produk terkini yang dikeluarkan oleh ‘rumah mode’ selalu saja sigap direspons penggemarnya. Ketika sedang digandrungi, kerap kali harganya tak lagi rasional. Apa yang kini sedang berjejal di pasaran?Ragam tanaman hias belakangan makin banyak. Itu pula yang menyebabkan tak ada satupun tanaman yang dijamin menyedot perhatian seluruh pecinta tanaman hias. Tiap penggemar punya pilihannya masing-masing.Meski begitu, para pemula umumnya tertarik pada tanaman yang berbunga, seperti Adenium. Begitu makin paham, mereka beranjak menjadi kolektor. ”Pada tahap ini, yang mereka incar adalah bunga dan bonggol tanaman,” cetus Ahmad Dahlan Kandi dari Indonursery, Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Saat pengetahuan mereka bertambah luas, kolektor pemula pun makin serius menekuni hobinya. Di tahap ini, yang dicari mereka menjadi lebih spesifik. ”Entah Adenium berdaun merah atau kuning,” imbuh Ahmad. Adenium merupakan tumbuhan yang paling bagus dikoleksi untuk pemula. Adenium bisa memuaskan dahaga mereka akan keindahan sebatang pohon. ”Bisa dibilang, Adenium merupakan pohon yang keindahannya lengkap. Dari segi bunga sampai ke akar,” komentar Ahmad.

Untuk pemula, Adenium jenis Harry Potter cocok untuk dimiliki. Jika pertumbuhannya normal, dalam enam sampai tujuh bulan, ia akan berbunga. ”Jenis ini bisa terus berbunga sepanjang tahun dengan masa tunas sekitar dua hingga tiga minggu,” Ahmad menguraikan.

Selain Adenium, Aglaonema juga masih ramai diperbincangkan. Yang satu ini disukai banyak orang lantaran daunnya. ”Ini tanaman tak berbunga,” papar Ahmad yang mengelola http://www.kebonkembang.com.

Bagi yang menyukai keindahan daun, Caladium juga patut ditengok. Ini merupakan sejenis keladi yang variasinya makin banyak. ”Phyloderon juga jenis tanaman nonbunga yang banyak peminatnya,” ucap Ahmad. Adakah yang paling merajai bursa tanaman hias? Tentu ada. ”Apalagi kalau bukan Anthurium. Di Senayan Flona Expo 2007 lalu, harganya melambung tanpa ada standarnya,” tutur Ahmad.

Baru tapi lama
Sebetulnya, sejumlah tanaman hias yang tengah digandrungi sudah ada sejak dulu. Hanya saja, masyarakat belum melihatnya sebagai barang koleksi. ”Variasi tiap tanaman memunculkan peminat,” jelas Ahmad. Dulu, Aglaonema merupakan tanaman yang mudah ditemui di taman-taman. Tanaman sri rezeki merupakan cikal bakalnya. ”Tanaman asli Indonesia ini lantas banyak dibiakkan di luar negeri dan dijual kembali ke sini,” ungkap Ahmad yang per bulannya mengimpor sekitar 600 biji Aglaonema.

Siapa sangka harga Anthurium bisa melambung. Padahal, bagi sebagian orang, tanaman ini biasa-biasa saja. ”Begitu jenisnya makin banyak namun sedikit dalam jumlah, orang berlomba memilikinya,” ujar Ahmad.

Begitu pula dengan Sansiviera. Tanaman pedang-pedangan, seperti lidah mertua, yang pada zaman dahulu kerap ditanam di dekat pagar rumah itu kini harganya merangkak naik. ”Sekarang harganya jutaan rupiah,” tutur Ahmad.

Yang mungkin paling tak dikira bakal menjadi tanaman hias bernilai ialah puring. Tanaman ini paling sering tumbuh menghijaukan kompleks pemakaman. ”Sekarang, jenis kura dan walet terus bertambah peminatnya,” kata Ahmad.

Tanaman sejatinya memang untuk ditumbuhkan di luar ruang. Meski begitu, ia juga bisa ‘naik pangkat’ ke dalam rumah. Tetapi, tak semua jenis cocok untuk menghijaukan ruang.

Sebagai alternatif, letakkan saja Aglaonema di ruang rumah Anda. Namun, seminggu sekali, jangan lupa membiarkannya bermandi cahaya matahari. Selain Aglaonema, Phyloderon juga dapat ditempatkan di ruangan. ”Jika ingin mendapatkan khasiat antioksidan, Sansiviera paling difavoritkan oleh pehobi,” Ahmad menandaskan.

Aneka tanaman hias tadi semuanya ditanam di dalam pot. Tanaman berpot ini sekaligus menjadi solusi menghias rumah yang berdiri di lahan yang terbatas. ”Siapa tahu dari hobi, Anda malah bisa mempertebal dompet,” komentar Ahmad.

Kendati demikian, Ahmad menyerukan agar masyarakat tak asal mengikuti tren. Terlebih, jika memang tak begitu berminat pada tanaman hias. ”Selain menghamburkan uang, sayang tanamannya. Bisa mati sia-sia,” cetusnya. Benar juga! (rei)

Sumber : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=299341&kat_id=340

Sansiviera – Tanaman Hias Antipolusi

Desember 13, 2007

Denpasar (BisnisBali) –Selain memiliki pesona tinggi, sansiviera yang berdaun meruncing ini punya kemampuan menyerap polusi.

Tak heran sejumlah penghobi tanaman hias menaruhnya di pojok ruang kantor atau rumah dengan tujuan membantu sirkulasi udara di dalam ruangan.

“Meski bila kita cium tanaman ini tidak mengeluarkan bau wangi, namun sansiviera efektif sekali untuk menyerap bau yang tak sedap terutama di dalam ruangan,” tutur Wayan Sukarma, pedagang tanaman dan pebisnis landscape di Denpasar, Jumat (27/4) kemarin.

Terang Sukarma, hal tersebut dalam tanaman hias sering disebut dengan proses potosintesis dan itu hanya mampu dilakukan oleh sejumlah jenis tanaman hias saja.

Katanya, pada ruangan tertutup penempatan sansiviera tentu akan jadi berguna bagi manusia dan tercipta hubungan saling menguntungkan.

Pasalnya, di satu sisi sansiviera menyerap polusi (karbondioksida) di dalam ruangan dan mengeluarkan kembali dalam bentuk oksigen murni, di sisi lain manusi bisa terus menghirup udara segar walau dengan sirkulasi udara yang tertutup.
Sansiviera sendiri di kalangan masyarakat lokal sering juga disebut dengan nama lidah mertua.

Jelasnya, kemampuan sansiviera bertahan hidup di dalam ruangan cukup tinggi, karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari.

Sansiviera yang berkembang biak melalui umbi lapis ini, untuk tumbuh dan berkembangnya hanya memerlukan 40 persen air saja.
Sansiviera ini tidak memerlukan perawatan yang rumit dan cukup tahan banting.

Bahkan tak disiram beberapa hari pun tetap bertahan hidup.
Meskipun mudah ditanam, katanya, sansiviera ini tetap harus diperhatikan perawatannya, seperti faktor struktur, cuaca, media dan bibitnya.

Media yang baik bila ditanam di lahan, sebaiknya, menggunakan sekam murni, pupuk kandang dan tanah bakar.

Sementara jika di polybag bisa memakai tanah bakar dan cocopeat.
Mudarta, pebisnis tanaman hias lainnya juga mengungkapkan hal sama. Sansiviera ini memang menarik sebagai tanaman hisa dan efektif untuk pencegah polusi udara yang terjadi di dalam ruangan.

Selain itu, hal unik lainnya dari sansevieria ini, jika dilakukan perbanyakan tanaman ini belum tentu mendapat hasil yang sama dengan indukannya, malah bentuknya bisa lain.
“Jadi, bila kita menemukan varietas baru bisa dinamakan sendiri. Sebab itu pula, di pasaran tanaman sansiviera ini dikenal dengan banyak varietas,” tandasnya. *man

Sumber : http://www.bisnisbali.com/2007/04/28/news/agrohobi/sew.html

Sansiviera, Lindungi dari Radiasi

Desember 13, 2007

Dulu, siapa memperhitungan tanaman bernama sansiviera. Tanaman berdaun bak pedang ini dianggap tak lebih sebagai penghias halaman. Namun di balik daunnya yang berujung lancip itu, tanaman berjuluk lidah mertua itu memiliki manfaat penting. Tanaman asal Afrika ini dikenal sebagai antipolutan atau penyerap racun.

Berkat manfaatnya ini, sansiviera mulai mendulang popularitas. Ini terbukti dari makin banyaknya tanaman ini dipajang pada pameran-pameran flora, seperti yang tampak pada Bursa Tanaman Hias dan Fauna 2007 yang digelar Perhimpunan Pecinta Adenium Indonesia (PPADI) di Maspion Square Jl Ahmad Yani Surabaya.

Pada pameran yang berlangsung hingga 6 Mei mendatang itu, sansiviera sudah mendominasi beberapa stan. Menurut Jihad, pengelola salah satu stan, makin banyak orang memilih sansiviera. Mungkin karena orang sekarang tahu manfaatnya, jelas pria asal Kota Batu itu.

Harga sansiviera ditentukan oleh tingkat kelangkaannya. Sansiviera yang mengalami mutasi harganya lebih mahal karena jumlahnya tak banyak dan bukan merupakan jenis baru, ungkap Jihad. Jihad kemudian menunjukkan koleksinya yang dipatok harga Rp 1.000.000. Ini jenis Lorentii varigata, katanya sambil menunjuk pada garis kuning yang menghias setiap helai daun. Menurut Jihad, garis tersebut tidak dimiliki induknya.

Jihad menambahkan, tanaman ini tidak memerlukan perawatan khusus. Menyiram pun tidak perlu setiap hari. Bisa tiga hari sekali atau bahkan seminggu sekali sehingga bisa diletakkan di dalam ruangan, ujarnya. Jika ditaruh di depan computer, sansiviera bisa menyerap radiasi computer. Aman buat orang kantoran, pungkas Jihad. kis

Sumber : http://www.surya.co.id/web/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=8382

Sansiviera – SI TAJAM ANTI POLUSI

Desember 13, 2007

KLIK - Detail Selain memiliki pesona tinggi, Sansiviera yang berdaun meruncing ini punya kemampuan menyerap polusi. Sangat cocok ditaruh di pojok ruang kantor atau rumah Anda.

Di Indonesia tanaman ini dikenal dengan nama Lidah Mertua. Selain sebagai tanaman hias, Sanseviera kerap ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk meredam bau. Sansevieria memang termasuk tanaman hias yang sering disimpan di dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh dalam kondisi dengan sedikit air dan cahaya matahari. Sekitar 40 persen air saja yang diperlukan tanaman yang berkembang biak melalui umbi lapis ini untuk tumbuh.

KLIK - Detail Tanaman ini mampu bertahan dalam kondisi di dalam ruangan. Cukup dikeluarkan seminggu sekali agar terkena matahari. Lalu, masukkan kembali ke dalam ruangan. Ia juga mampu bertahan di negara yang memiliki 4 musim. Akibatnya, ia banyak mengalami penyimpangan bentuk, corak, dan warna. “Jenisnya bisa mencapai 600-an,” ujar Anna Sylvana dari PT Hujanmas Florestika Kencana. Sebut saja, S. laurentii, S. golden king, S. pinguin cola, S. laurentii cola, S. superba futura.

Tidak memerlukan perawatan yang rumit dan cukup tahan banting itulah keunggulan Sansevieria. Bahkan tak disiram beberapa hari pun tetap bertahan hidup. Tak seperti Aglaonema yang beragam warna, Sansevieria hanya berwarna hijau dan kuning saja.

KLIK - Detail Meskipun mudah ditanam, Anda tetap harus memperhatikan perawatannya, seperti faktor struktur, cuaca, media, dan bibitnya. “Apalagi kalau pas akan diekspor harus diperlakukan seperti bayi saking harus hati-hati sekali memperlakukannya,” tutur Anna yang sering melihat di luar negeri Sansevieria sudah banyak diletakkan di hotel, kantor, dan airport.

Media yang baik, tambah Grace Satyadarma, Direktur P.T. Hujanmas, kalau di lahan menggunakan sekam murni, pupuk kandang, dan tanah bakar. Jika di polybag memakai tanah bakar dan cocopeat. Grace sangat menganjurkan tak memberi pupuk kimia. Karena akarnya jadi busuk dan daunnya akan lepas.

KLIK - Detail Satu-satunya penyakit yang menyerang Sansevieria adalah jamur. “Jika di manusia seperti terkena cacar air. Sampai saat ini belum ada obatnya,” papar Anna. Satu-satunya jalan jika tanaman sudah terkena jamur, dengan memotong daunnya sampai akar. Lalu, lihat bonggolnya. Kalau berwarna putih berarti masih sehat. Jika ada bintik-bintiknya berarti sudah jelek. “Jika telat memotong maka dalam hitungan jam akan menyebar ke tanaman lain dan mati,” sambung Grace.

Yang membuat Sansevieria menjadi unik, jika dilakukan perbanyakan belum tentu mendapat hasil yang sama dengan induknya. “Malah bisa lain bentuknya. Jadi, kalau menemukan varietas baru bisa dinamakan sendiri,” kata Anna.

KLIK - Detail Koleksi Sansevieria: Grace dan Anna.
Lokasi: Griyaloka Sektor 1.2 Blok S/5, Jl. Rawabuntu Utara BSD, Tangerang.

Tahukah Anda?
1. S. Laurentii bisa mengobati diabetes (daunnya dipotong-potong dan direbus dengan 3 gelas air. Setelah jadi segelas air lalu diminum). Di Jepang untuk pengobatan ambein (setelah daunnya dikeringkan, direbus jadi segelas air dan diminum).

2. Di Malaysia dinamakan Lidah Jin. Kegunaannya, bisa menyembuhkan sakit telinga, mengobati gatal, merangsang pertumbuhan rambut, atau mengobati sakit gigi.
KLIK - Detail
3. Sansevieria juga berbunga. Di malam hari akan tercium bau wangi. Hanya saja tumbuhnya tak lama.

4. Berbeda dengan tanaman lain, sansvieria tak bisa diperbanyak dengan kultur jaringan. Karena hasil perbanyakan akan berbeda bentuknya dengan induknya.

KLIK - Detail 5. Serat sansevieria bisa dibuat menjadi baju dan diproduksi di Yogya. Harganya sekitar Rp 500 ribu untuk satu baju.

6. Disebut lidah mertua karena mertua dan menantu digambarkan tak pernah akur. Sansevieria sama tajamnya dengan lidah mertua, karena memiliki aura yang keras. Jika menanam di halaman sebaiknya disandingkan dengan tanaman beraura lembut.

7. Sansevieria adalah satu-satunya tanaman yang mempunyai society. 

Noverita K. Waldan
FOTO-FOTO: Widi Nugroho

Sumber : http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=11386

Hallo Dunia …

Desember 13, 2007

Selamat datang di “Komunitas Sansiviera”